me.yatno.web.id

Abang Gojek dan Grab tobat berjamaah?

Image/photo

Hi Pembaca budiman,

Beberapa hari yang lalu penulis kaget, terkejut dan sekaligus bersyukur kepada ilahi robbi. Kenapa seperti itu? Pasalnya, ketika penulis pulang kerja turun dari KRL di stasiun depok lama atau yang lebih keren disebut stadela, tidak nampak terlihat keruwetan yang semrawut di depan jalan kartini. Macet tetap macet, tapi waktu itu terlihat sangat jauh lebih rapih dan sepertinya baru kali itu penulis untuk pertamakalinya melihat keindahan dalam sebuah view berupa jalanan yang macet rapet.

Sehari sebelumnya adalah hari hari yang biasa yang biasa dilalui orang biasa just like me and you dear reader, yaitu hari yang macet, semrawut, so dangerous trotoar (sebagai member dan pengguna aktif trotoar, saya ingin juga bercerita, menulis dan membahas mengenai amat sangat berbahayanya trotoar di depok), Dan icon dari kesemrawutan simpang stadela yaitu ugal-ugalannya abang gojek dan grab dalam parkir menunggu dering notifikasi di handphonenya.

Pada hari penulis kaget dihari itu, sempat terbersit, tersirat di hati dan pikiran penulis bahwa akhirnya para abang gojek dan grab itu telah mengerti dan mengakui apa kesalahan mereka dan memutuskan untuk TOBAT berjamaah.

Penulis yakin bahwa orang yang lebih bersyukur dengan Tobat berjamaahnya para abang gojek dibanding penulis adalah pemilik warung-warung kecil di pinggir jalan dekat simpang stadela itu. Bagaimana tidak, hari hari berlalu dan di depan warung mereka selalu berjejer tumpukan motor yang parkir persis di depan muka toko mereka tepat di atas trotoar. Penulis rasa hampir hampir tidak mungkin pembeli asli akan bisa mampir ke warung mereka karena begitu rapatnya tumpukan motor tersebut menutup jalan masuk menuju warung.

Apakah menurut pembaca yang budiman warung itu akan memiliki pengganti pembeli berupa abang gojek dan grab yang setia memenuhi trotoar dengan motor mereka di atas trotoar depan mulut warung? penulis rasa tidak, karena warung warung tersebut tidak menjual barang kebutuhan abang gojek dan grab ketika melakukan aktifitas terbaik berupa nongkrong menunggu bunyi dering notifikasi, seperti kopi teh atau cemilan kecil. Tapi warung itu menjual kue bolu, ada juga yang menjual kue kering, ada yang menjual soto betawi, ada yang menjual sate.

Usut punya usut, ternyata gojek dan grab sebagai perusahaan unicorn indonesia yang valuasi perusahaannya bernilai Rp. 14.124.600.000.000 untuk memudahkan pembaca budiman angka itu bisa dibaca dengan kalimat Empat belas trinliun seratus duapuluh empat milyar enamratus juta rupiah. Mereka para perusahaan unicorn dengan valuasi duit yang banyak sekali sehingga hampir-hampir sulit sekali menyebut jumlah duit perusahaan-perusahaan unicorn tersebut. Mereka membuat shelter khusus buat karyawan ujung tombak perusahaan untuk nongkrong. Jadi abang gojek dan grab itu dikumpulkan di shelter tersebut, tidak lagi berkumpul secara ugal-ugalan di pinggir jalan. Ini luar biasa.

Dampak dari gerakan venomenal ini yang paling kecil bagi saya adalah akhirnya untuk pertama kalinya saya bisa melihat keindahan dalam sebuah view berupa jalanan yang macet rapet.

Penulis, Abuhanin bapake hanin
Mt yatno
April 7, 2019

#OJOL #OjekOnline #IdeBagus
Light Notes
Later posts Earlier posts